Kawan, jika
saya ditanya kapan sih waktu yang tepat untuk menentukan kesuksesan dan
keberhasilan seseorang? Maka, jawabnya adalah saat masih usia dini. Benarkah?
Baiklah akan saya bagikan sebuah fakta yang telah banyak diteliti oleh para
peneliti dunia.
Pada usia dini
0-6 tahun, otak berkembang sangat cepat hingga 80 persen. Pada usia tersebut
otak menerima dan menyerap berbagai macam informasi, tidak melihat baik dan
buruk. Itulah masa-masa yang dimana perkembangan fisik, mental maupun spiritual
anak akan mulai terbentuk. Karena itu, banyak yang menyebut masa tersebut
sebagai masa-masa emas anak (golden age).
Sebuah
penelitian yang dilakukan oleh seorang ahli Perkembangan dan Perilaku Anak dari
Amerika bernama Brazelton menyebutkan bahwa pengalaman anak pada bulan dan
tahun pertama kehidupannya sangat menentukan apakah anak ini akan mampu
menghadapi tantangan dalam kehidupannya dan apakah ia akan menunjukkan semangat tinggi untuk belajar dan berhasil dalam
pekerjaannya.
Nah, oleh karena itu, kita sebagai orang tua hendaknya
memanfaatkan masa emas anak untuk memberikan pendidikan karakter
yang baik bagi anak. Sehingga anak bisa meraih keberhasilan dan kesuksesan
dalam kehidupannya di masa mendatang. Kita sebagai orang tua kadang tidak
sadar, sikap kita pada anak justru akan
menjatuhkan si anak. Misalnya, dengan memukul, memberikan pressure yang
pada akhirnya menjadikan anak bersikap negatif, rendah diri atau minder,
penakut dan tidak berani mengambil resiko, yang pada akhirnya karakter-karakter
tersebut akan dibawanya sampai ia dewasa. Ketika dewasa karakter semacam itu
akan menjadi penghambat baginya dalam meraih dan mewujudkan keinginannya.
Misalnya, tidak bisa menjadi seorang public speaker gara-gara ia minder
atau malu. Tidak berani mengambil peluang tertentu karena ia tidak mau
mengambil resiko dan takut gagal. Padahal, jika dia bersikap positif maka
resiko bisa diubah sebagai tantangan untuk meraih keberhasilan. Anda setuju
kan?
Banyak yang
mengatakan keberhasilan kita ditentukan oleh seberapa jenius otak kita. Semakin
kita jenius maka semakin sukses. Semakin kita meraih predikat juara kelas
berturut-turut, maka semakin sukseslah kita. Benarkah demikian? Eit
tunggu dulu!
Saya sendiri
kurang setuju dengan anggapan tersebut. Fakta membuktikan, banyak orang sukses
justru tidak mendapatkan prestasi gemilang di sekolahnya, mereka tidak
mendapatkan juara kelas atau menduduki posisi teratas di sekolahnya. Mengapa
demikian? Karena sebenarnya kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan
otak kita saja. Namun kesuksesan ternyata lebih dominan ditentukan oleh
kecakapan membangung hubungan emosional kita dengan diri sendiri, orang
lain dan lingkungan. Selain itu,
yang tidak boleh ditinggalkan adalah hubungan spiritual kita dengan Tuhan Yang
Maha Esa.
Tahukah anda
bahwa kecakapan membangun hubungan dengan tiga pilar (diri sendiri, sosial, dan
Tuhan) tersebut merupakan karakter-karakter yang dimiliki orang-orang sukses.
Dan, saya beritahukan pada anda bahwa karakter tidak sepenuhnya bawaan sejak
lahir. Karakter semacam itu bisa dibentuk. Wow, Benarkah? Saya katakan Benar!
Dan pada saat anak berusia dini-lah terbentuk karakter-karakter itu. Seperti
yang kita bahas tadi, bahwa usia dini adalah masa perkembangan karakter fisik,
mental dan spiritual anak mulai terbentuk. Pada usia dini inilah, karakter anak akan
terbentuk dari hasil belajar dan menyerap dari
perilaku kita sebagai orang tua dan dari lingkungan sekitarnya.
Pada usia ini perkembang mental berlangsung sangat cepat. Pada usia itu pula
anak menjadi sangat sensitif dan peka mempelajari dan berlatih sesuatu yang
dilihatnya, dirasakannya dan didengarkannya dari lingkungannya. Oleh karena
itu, lingkungan yang positif
akan membentuk karakter yang positif dan sukses.
Lalu, bagaimana cara membangun karakter anak sejak usia dini?
Karakter akan
terbentuk sebagai hasil pemahaman 3 hubungan yang pasti dialami setiap manusia
(triangle relationship), yaitu hubungan dengan diri sendiri (intrapersonal),
dengan lingkungan (hubungan
sosial dan alam sekitar), dan hubungan dengan Tuhan YME (spiritual). Setiap
hasil hubungan tersebut akan memberikan pemaknaan/pemahaman yang pada akhirnya
menjadi nilai dan keyakinan anak. Cara
anak memahami bentuk hubungan tersebut akan menentukan cara anak memperlakukan
dunianya. Pemahaman negatif akan berimbas pada perlakuan yang negatif dan
pemahaman yang positif akan memperlakukan dunianya dengan positif. Untuk itu, Tumbuhkan
pemahaman positif pada diri anak sejak usia dini, salah satunya dengan cara
memberikan kepercayaan pada anak untuk mengambil
keputusan untuk dirinya sendiri, membantu anak mengarahkan potensinya dengan
begitu mereka lebih mampu untuk bereksplorasi dengan sendirinya, tidak
menekannya baik secara langsung atau secara halus, dan seterusnya. Biasakan
anak bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Ingat pilihan terhadap lingkungan sangat
menentukan pembentukan karakter
anak. Seperti kata pepatah bergaul dengan penjual minyak wangi akan ikut wangi,
bergaul dengan penjual ikan akan ikut amis. Seperti itulah, lingkungan baik dan sehat
akan menumbuhkan karakter sehat dan baik, begitu pula sebaliknya. Dan yang
tidak bisa diabaikan adalah membangun hubungan spiritual dengan Tuhan Yang
Maha Esa. Hubungan spiritual dengan Tuhan YME terbangun melalui pelaksanaan
dan penghayatan ibadah ritual yang terimplementasi pada kehidupan sosial.
Nah, sekarang
kita memahami mengapa membangun pendidikan karakter
anak sejak usia dini itu penting. Usia dini adalah usia emas, maka manfaatkan
usia emas itu sebaik-baiknya.
Salam
Timothy Wibowo
Perlukah Anak Diikutkan PAUD?
KOMPAS.com
- Pendidikan
Anak Usia Dini (PAUD) masih sering dianggap pendidikan sekunder, sehingga
banyak orang tua yang lebih memilih untuk langsung menyekolahkan anaknya ke
Sekolah Dasar. Sebenarnya, perlukah anak diikutkan dalam PAUD?
Direktur
Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal (PAUDNI) Prof. Lydia
Freyani Hawadi mengatakan, sebaiknya anak-anak usia 2-6 tahun diikutkan PAUD
karena di tempat ini anak-anak mendapat pengalaman, sosialisasi, serta
pengajaran pada masa terpenting dalam pertumbuhan dan perkembangan mereka.
Ia
memaparkan, PAUD dapat memberikan manfaat yang nyata terhadap perkembangan
kecerdasan dan moral anak. PAUD menanamkan kejujuran, disiplin, cinta sesama,
cinta tanah air, bahkan tentang gizi. Menurutnya, penyampaian nilai-nilai dasar
tersebut semakin efektif jika diberikan sejak usia dini.
"Esensi
dari PAUD adalah pemberian rangsangan atau stimulasi pendidikan yang sesuai
dengan tahap tumbuh-kembang anak dan dilaksanakan melalui pendekatan bermain
sambil belajar," papar Reni, panggilannya, dalam Nutritalk bertajuk
"Pentingnya Tumbuhkan Kecintaan pada Gizi Sejak Dini" oleh Sarihusada
Selasa (21/5/2013) di Jakarta.
Sayangnya, saat ini jumlah anak yang diikutkan dalam PAUD baru mencapai 34,54 persen dari total anak usia PAUD di Indonesia. Padahal ditargetkan pada tahun 2015 mencapai 70 persen.
Sayangnya, saat ini jumlah anak yang diikutkan dalam PAUD baru mencapai 34,54 persen dari total anak usia PAUD di Indonesia. Padahal ditargetkan pada tahun 2015 mencapai 70 persen.
Guru
Besar Psikologi Universitas Indonesia ini memaparkan, kurangnya minat orangtua
memasukkan anaknya ke PAUD adalah tambahan biaya pendidikan sebelum anaknya
mencapai pendidikan wajib. Padahal, PAUD bahkan dapat dilakukan secara tidak
formal dengan dukungan pemerintah yang dilakukan di tempat-tempat umum seperti
rumah ibadah atau posyandu.
"Riset
menunjukkan, anak-anak yang ikut PAUD cenderung lebih berprestasi dan ceria,
berani, dan bersemangat. Pemantauan anak yang ikut PAUD hingga kelas 5 SD
menunjukkan prestasi mereka lebih baik dibandingkan anak yang tidak,"
tutur Reni.
Pilih
yang tepat
Bila
tinggal di lingkungan yang sudah tersedia banyak PAUD, maka pemilihan PAUD yang
tepat juga perlu diperhatikan oleh orangtua. Menurut Reni, PAUD yang baik
adalah PAUD yang dapat memberikan pendidikan secara holistik integratif.
Reni
pun memaparkan syarat-syarat memilih PAUD yang tepat untuk anak. Syarat pertama
yaitu, pilih yang lokasinya dekat dengan rumah. "Jika terlalu jauh, anak
akan capek di jalan sehingga tidak bisa fokus mengikuti PAUD," ujar Reni.
Kedua,
pilih yang pengajarnya berkompeten dan memahami teknik pengajaran PAUD yang
tepat. Dan ketiga, kurikulum PAUD jelas dan memasukkan nilai-nilai dasar
positif ke dalamnya.
PENGERTIAN DAN KONSEP DASAR PAUD
Pengertian Paud
Pendidikan Anak
Usia Dini (PAUD) adalah pendidikan yang memberikan pengasuhan, perawatan, dan
pelayanan kepada anak Usial Lahir sampai 6 tahun. Pendidikan anak usia dini
adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai
dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan
untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak
memiliki kesiapan dalam memasuki sekolah dasar dan kehidupan tahap berikutnya. Pendidikan usia dini merupakan wahana pendidikan yang sangat fundamental dalam memberikan kerangka dasar terbentuk dan berkembangnya dasar-dasar pengetahuan, sikap dan keterampilan pada anak. Keberhasilan proses pendidikan pada masa dini tersebut menjadi dasar untuk proses pendidikan selanjutnya. Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan pada lembaga pendidikan anak usia dini, seperti : Kelompok Bermain, Taman Penitipan Anak, Satuan Padu Sejenis maupun Taman Kanak-kanak sangat tergantung pada sistem dan proses pendidikan yang dijalankan.
Bentuk-bentuk Paud terdiri dari :
- PAUD Formal ; TK, Raudhatul Atfal.
- PAUD Non Formal ; Kelompok Bermain (KB), Taman Pendidikan Anak (TPA), Pos Paud ..dll
- PAUD Informal ; Keluarga
Konsep Dasar PAUD
Hakikat Anak Berkaitan dengan Anak Usia Dini
Anak adalah manusia kecil yang memiliki
potensi yang masih harus dikembangkan. Ia memiliki karakteristik
yang khas dan tidak sama dengan orang dewasa serta akan berkembang
menjadi manusia dewasa seutuhnya. Dalam hal ini anak merupakan seorang manusia
atau individu yang memiliki pola perkembangan dan kebutuhan tertentu yang
berbeda dengan orang dewasa. Anak memiliki berbagai macam potensi yang harus
dikembangkan. Meskipun pada umumnya anak memiliki pola perkembangan yang sama,
tetapi ritme perkembangannya akan berbeda satu sama lainnya karena pada
dasarnya anak bersifat individual.
Anak usia dini adalah sosok
individu yang sedang menjalankani proses perkembangan dengan pesat dan sangat
fundamental bagi kehidupan selanjutnya. Anak usia dini adalah anak yang berada
pada rentang usia 0 – 8 tahun (NAEYC, 1992). Pada masa ini proses
pertumbuhan dan perkembangan dalam berbagai aspek seperti: fisik,
sosio-emosional, bahasa dan kognitif sedang mengalami masa yang tercepat
dalam rentang perkembangan hidup manusia (Berk,1992). Anak usia dini terbagi
menjadi 4 (empat) tahapan yaitu masa bayi dari usia lahir sampai 12 (dua belas)
bulan, masa kanak-kanak/batita dari usia 1 sampai 3 tahun, masa prasekolah dari
usia 3 sampai 5 tahun dan masa sekolah dasar dari usia 6 sampai 8 tahun. Setiap
tahapan usia yang dilalui anak akan menunjukkan karakteristik yang berbeda.
Proses pembelajaran sebagai bentuk perlakuan yang diberikan pada anak
haruslah memperhatikan karakteristik yang dimiliki setiap tahapan perkembangan.
Apabila perlakuan yang diberikan tersebut tidak didasarkan pada karakteristik
perkembangan anak, maka hanya akan menempatkan anak pada kondisi yang
menderita.
Berkaitan dengan anak usia dini, terdapat beberapa masa yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi bagaimana seharusnya seorang pendidik menghadapi anak usia dini, sebagai berikut:
Berkaitan dengan anak usia dini, terdapat beberapa masa yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi bagaimana seharusnya seorang pendidik menghadapi anak usia dini, sebagai berikut:
1. Masa Peka
2. Masa Egosentris
3. Masa Meniru
4. Masa Berkelompok
5. Masa Bereksplorasi
6. Masa Pembangkangan
Tujuan Pendidikan Anak Usia Dini
Secara umum tujuan Pendidikan Anak
Usia Dini adalah mengembangkan berbagai potensi anak sejak dini sebagai
persiapan untuk hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Sedangkan berdasarkan tinjauan aspek didaktis psikologis tujuan pendidikan di
Pendidikan Anak Usia Dini yang utama adalah:
- Menumbuhkembangkan pengetahuan, sikap dan keterampilan agar mampu menolong diri sendiri (self help), yaitu mandiri dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri seperti mampu merawat dan menjaga kondisi fisiknya, mampu mengendalikan emosinya dan mampu membangun hubungan dengan orang lain.
- Meletakkan dasar-dasar tentang bagaimana seharusnya belajar (learning how to learn). Hal ini sesuai dengan perkembangan paradigma baru dunia pendidikan melalui empat pilar pendidikan yang dicanangkan oleh UNESCO, yaitu learning to know, learning to do, learning to be dan learning to live together yang dalam implementasinya di lembaga PAUD dilakukan melalui pendekatan learning by playing, belajar yang menyenangkan (joyful learning) serta menumbuh-kembangkan keterampilan hidup (life skills) sederhana sedini mungkin.
Fungsi Pendidikan Anak Usia Dini
Program kegiatan bermain pada pendidikan anak usia dini memiliki sejumlah fungsi, yaitu: (1) untuk mengembangkan seluruh kemampuan yang dimiliki anak sesuai dengan tahap perkembangannya, (2) mengenalkan anak dengan dunia sekitar, (3) mengembangkan sosialisasi anak, (4) mengenalkan peraturan dan menanamkan disiplin pada anak dan (5) memberikan kesempatan kepada anak untuk menikmati masa bermainnya.
Berdasarkan tujuan pendidikan anak usia dini dapat ditelaah beberapa fungsi pendidikan anak usia dini, yaitu :
a. Fungsi Adaptasi
Berperan dalam membantu anak melakukan penyesuaian diri dengan berbagai kondisi lingkungan serta menyesuaikan diri dengan keadaan dalam dirinya sendiri. Dengan anak berada di lembaga pendidikan anak usia dini, pendidik membantu mereka beradaptasi dari lingkungan rumah ke lingkungan sekolah. Anak juga belajar mengenali dirinya sendiri.
b. Fungsi Sosialisasi
Berperan dalam membantu anak agar memiliki keterampilan-keterampilan sosial yang berguna dalam pergaulan dan kehidupan sehari-hari dimana ia berada. Di lembaga pendidikan anak usia dini anak akan bertemu dengan teman sebaya lainnya. Mereka dapat bersosialisasi, memiliki banyak teman dan mengenali sifat-sifat temannya.
c. Fungsi Pengembangan
Di Lembaga pendidikan anak usia dini ini diharapkan dapat pengembangan berbagai potensi yang dimiliki anak. Setiap unsur potensi yang dimiliki anak membutuhkan suatu situasi atau lingkungan yang dapat menumbuhkembangkan potensi tersebut kearah perkembangan yang optimal sehingga menjadi potensi yang bermanfaat bagi anak itu sendiri maupun lingkungannya.
d. Fungsi Bermain
Berkaitan dengan pemberian kesempatan pada anak untuk bermain, karena pada hakikatnya bermain itu sendiri merupakan hak anak sepanjang rentang kehidupannya. Melalui kegiatan bermain anak akan mengeksplorasi dunianya serta membangun pengetahuannya sendiri.
Prinsip dalam Pendidikan Anak Usia Dini
Untuk memenuhi aspek-aspek dalam perkembangan anak baik aspek fisik, kognitif, sosial emosional dan bahasa serta aspek lainnya seperti agama dan moral, kemandirian dan seni), maka perlu dilakukan berbagai prinsip yang meliputi:
1. Berorientasi pada Kebutuhan Anak
2. Belajar melalui bermain
3. Pendekatan Berpusat pada Anak
4. Pendekatan Kontruktivisme
5. Pendekatan Kreatif dan inovatif
6. Lingkungan yang kondusif
7. Menggunakan pembelajaran terpadu
8. Pengembangan Tematik
9. Menggunakan berbagai media dan sumber belajar
10. Mengembangkan berbagai kecakapan hidup
Sumber: Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini, oleh: Dra. Nurbiana Dhieni, M.Psi, Proyek Direktorat Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Non Formal Tahun 2009
Pemahaman
sebagian masyarakat tentang konsep pendidikan anak usia dini (PAUD) selama ini
masih keliru dan rancu. Masyarakat memandang PAUD itu adalah sekolah/lembaga
pendidikan/satuan pendidikan, di sinilah letak kesalahpahamannya. Pemahaman
yang keliru ini dapat dilihat antara lain banyak komentar pada blog tunas63.
Pada blog tunas63 ini banyak yang meminta bantuan untuk “mencarikan” NUPTK
dengan menyebut nama sekolah “PAUD . . .”. Apa sebenarnya pengertian PAUD?
Pengertian PAUD
Berdasarkan UU
Nomor 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (sisdiknas), disebutkan dalam
pasal 1 ayat (14), Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang
ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan
melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan
perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki
pendidikan lebih lanjut.
Dalam UU Sisdiknas
tersebut, secara khusus, PAUD diatur dalam Bagian Ketujuh, Pasal 28, tentang
Pendidikan Anak Usia Dini yang diuraikan dalam 6 ayat sebagai berikut:
(1)
Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar.
(2)
Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan
formal, nonformal, dan/atau informal.
(3)
Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman
Kanak-kanak (TK), Raudatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat.
(4) Pendidikan
anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal berbentuk Kelompok Bermain (KB),
Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat.
(5)
Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan
keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.
(6)
Ketentuan mengenai pendidikan anak usia dini sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan Peraturan
Pemerintah.
Berdasarkan
paparan di atas, PAUD, dapat dikatakan merupakan kelompok jenjang pendidikan.
Jelasnya, kelompok jenjang pendidikan yang dimaksud adalah:
- PAUD (meliputi TPA/KB dan TK/RA)
- Pendidikan Dasar (meliputi (SD/MI dan SMP/MTs)
- Pendidikan Menengah (meliputi SMA/SMK/MA)
- Pendidikan Tinggi.
Kalau (misal)
Bu Lia mengatakan mengajar PAUD maka perlu pertanyaan lanjutan, apa nama
satuan pendidikan PAUD tempat Bu Lia mengajar? Jawabnya, bisa TPA, KB, TK, atau
RA. Bila Bu Lia mengajar di TK maka istilah yang tepat adalah Bu Lia seorang
Guru TK.
Kalau ada sebutan
Guru PAUD, mestinya ada sebutan Guru Pendidikan Dasar untuk menyebut guru
SD/MI/SMP/MTs, tapi terdengar lucu?
Pendidikan
anak usia dini adalah suatu upaya
pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak
lahir sampai dengan usia 6 (enam)
tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan
pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan
jasmani dan rohani agar anak memiliki
kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Fungsi dan
Tujuan PAUD
Berdasarkan PP
17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidiukan, fungsi dan
tujuan PAUD diatur dalam Pasal 61. Berikut bunyi lengkapnya:
(1)
Pendidikan anak usia dini berfungsi membina, menumbuhkan, dan mengembangkan
seluruh potensi anak usia dini secara optimal sehingga terbentuk perilaku dan
kemampuan dasar sesuai dengan tahap perkembangannya agar memiliki kesiapan
untuk memasuki pendidikan selanjutnya.
(2)
Pendidikan anak usia dini bertujuan:
a.
membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi
manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
berkepribadian luhur, sehat, berilmu, cakap, kritis, kreatif, inovatif,
mandiri, percaya diri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung
jawab; dan
b.
mengembangkan potensi kecerdasan spiritual, intelektual, emosional, kinestetis,
dan social peserta didik pada masa emas pertumbuhannya dalam lingkungan bermain
yang edukatif dan menyenangkan.
Bentuk dan
Jenis Satuan Pendidikan PAUD
PAUD Jalur
Formal (Pasal 62)
(1) Pendidikan
anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk TK, RA, atau bentuk lain
yang sederajat.
(2) TK, RA,
atau bentuk lain yang sederajat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memiliki
program pembelajaran 1 (satu) tahun atau 2 (dua) tahun.
(3) TK, RA,
atau bentuk lain yang sederajat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
diselenggarakan menyatu dengan SD, MI, atau bentuk lain yang sederajat.
PAUD Jalur
Nonformal (Pasal 107)
(1)
Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal berbentuk kelompok
bermain, taman penitipan anak, dan satuan pendidikan anak usia dini yang
sejenis.
(2) Kelompok
bermain, taman penitipan anak, dan satuan pendidikan anak usia dini yang
sejenis menyelenggarakan pendidikan dalam konteks:
a. bermain
sambil belajar dalam rangka pembelajaran agama dan ahlak mulia;
b. bermain
sambil belajar dalam rangka pembelajaran sosial dan kepribadian;
c. bermain
sambil belajar dalam rangka pembelajaran estetika;
d. bermain
sambil belajar dalam rangka pembelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan; dan
e. bermain
sambil belajar dalam rangka merangsang minat kepada ilmu pengetahuan dan
teknologi.
(3) Peserta
didik kelompok bermain, taman penitipan anak, dan satuan pendidikan anak usia
dini jalur pendidikan nonformal yang sejenis dapat dievaluasi perkembangannya
tanpa melalui proses yang bersifat menguji kompetensi.
Penerimaan
Peserta Didik Pasal 63
Peserta didik
TK, RA, atau bentuk lain yang sederajat berusia 4 (empat) tahun sampai dengan 6
(enam) tahun.
Analisis Permasalahan Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Masyarakat
Arti penting mendidik anak sejak usia dini dilandasi dengan kesadaran bahwa
masa kanak-kanak adalah masa keemasan (the golden years) ketika seluruh
fungsi dan kemampuan anak sedang berkembang dengan pesat, kemampuan yang
menurut Vygotsky masih merupan potensial ini memerlukan kontribusi dari
orang dewasa untuk memberikan stimulasi yang tepat agar kemapuan-kemampuan itu
teraktualisasi dan berkembang dengan optimal.
Kesadaran
akan pentingnya pendidikan anak usia dini tahun-tahun belakangan ini
mendapatkan perhatian yang cukup menggembirakan dari berbagai kalangan
masyarakat, pemerintah, pihak swasta, orang tua, akademisi, praktisi pendidik,
agamawan dan lain-lain. Wujud kepedulian itu dimanifestasikan dengan
terbentuknya berbagai lembaga pendidikan anak usia dini yang didirikan oleh
masyarakat, namun pembangunan pada sektor pendidikana anak usia dini ini tidak
lepas dari kendala yang di temui dilapangan sehingga perkembangan pendidkan
anak usia dini di indonesia belum dapat dikatakan telah optimal,
kendala-kendala tersebut berkaitan dengan kemampuan pemerintah dan masyarakat,
pengelola dan mutu pendidikan anak usia dini. Masalah-masalah yang di hadapi
adalah sebagai berikut :
1.
Belum terpenuhinya
kebutuhan masyarakat akan pendidikan anak usia dini
2.
Kurang kualitas dan
kuantitas guru/pamong pendidikan anak usia dini
3.
Kurang mutu pendidikan
anak usia dini
4.
Kurangnya animo
masyarakat/kesadaran orang tua tentang urgensi pendidikan anak usia dini
5.
Kebijakan pemerintah
tentang pendidikan anak usia dini yang belum memadai
Upaya
yang telah dilakukan pemerintah melalui Depdiknas sejauh ini adalah mendirikan
pusat-pusat pendidikan anak usia dini di daerah-daerah, termasuk di daerah
tertinggal namun keberadaan pusat-pusat pendidikan anak usia dini ini masih
sangat minim dibandingkan dengan tingkat kebutuhan masyarakat. Urgensi
pendidikan anak usia dini sendiri sudah tidak diragukan lagi manfaatnya bagi
peningkatan kualitas anak dan anak yang mendapatkan layanan pendidikan anak
usia dini akan lebih baik dari berbagai aspek perkembangannya, oleh karenanya
hubungan pengembangan pendidikan anak usia dini dengan peningkatan kualitas
anak sangat erat. Solusi yang dapat diupayakan untuk masalah ini antara lain
sebagai berikut :
1.
Pemerintah selayaknya
lebih memprioritaskan anggaran pembangunan pendidikan anak usia dini diatas
bidang pembangunan yang lain.
2.
Pemerintah dapat
mendukung dan bekerjasama dengan pihak swasta baik tingkat pusat maupun daerah
untuk membangun pendidikan anak usia dini berupa bantuan dana, supervisi,
pembinaan guru dan sosialisai acuan pembelajaran yang lebih intensif.
Pendidikan
anak usia dini bukanlah bidang yang dapat dianggap ringan perlu orang yang
berkompeten dibidangnya untuk mendidik anak, karena itu guru pendidikan anak
usia dini perlu mempunyai latar pendidikan yang sesuai dengan pendidikan anak
usia dini agar dapat mengajara dengan baik dan memaksimalkan potensi-potensi
anak. Peningkatan kualitas anak usia dini juga dipengaruhi oleh faktor
kuantitas guru, rasio perbandingan anak dan guru yang tak seimbang akan
meninbulkan masalah baru, satu guru yang mengajar 30 anak tentu tidak bisa
memperhatikan proses belajar anak tersebut satu persatu secara intensif. Kurang
berminatnya lulusan atau masyarakat untuk jadi guru anak usia dini menjadi
kendala perkembangan pendidikan anak usia dini diindonesia. Hal ini disebabkan
secara filosofi manusia indonesia kurang mengenal pendidikan anak usia dini
sehingga apa yang tercermin dari moralitas manusia dewasa indonesia saat ini
pada umumnya adalah kurangnay rasa tanggungjawab, toleransi, disiplin,
kejujuran dan kepekaan terhadap sesamanya. Perlu kerjasama yang saling
mendukung antara pemerintah dan organisasi profesi pendidikan anak usia dini
(HIMPAUDI baik tingkat pusat maupun daerah) untuk bersama-sama meningkatkan
kualitas dan kuantitas guru/pamong pendidikan anak usia dini secara merata di
seluruh wilayah indonesia.
Hal
yang perlu disadari masyarakat/orang tua adalah bahwa anak yang mendapatkan
pelayanan pendidikan anak usia dini, perkembangan aspek-aspek fisik dan
psikisnya akan meningkat dan berkembang dengan lebih optimal dibandingkan anak
yang tidak melalui pendidikan anak usia dini. Yang perlu diupayakan dalam
masalah ini antara lain adalah :
1.
Pemerintah maupun
swasta mengadakan institusi pendidikan bagi orang tua tentang anak usia dini
yang dapat terjangkau oleh semua kalangan masyarakat.
2.
Pembinaan pendidikan
anak usia dini sampai kepelosok-pelosok daerah, tidak hanya posyandu tetapi
juga dengan sistem door to door dan terjun langsung kemasyarakat.
3.
Mengadakan lembaga
pendidikan anak usia dini yang terjangkau bahkan Cuma-Cuma untuk masyarakat
kurang mampu dengan subsidi dari pemerintah dan masyarakat setempat.
Dengan
terakomodasinya masalah pendidikan anak usia dini dalam UU Sisdiknas No.20
tahun 2003, pasal 28, diharapkan pemerintah dapat melahirkan peraturan
pemerintah tentang prasekolah/pendidikan anak usia dini (PAUD) baru yang
lebih berpihak pada legalitas eksistensi pendidikan anak usia dini itu sendiri
di indonesia beserta seluruh perangkat pendukung yang dapat diupayakan untuk
masalah ini adalah :
1.
Pemerintah hendaknya
mengubah kebijakan agar pendidikan pra sekolah/PAUD menjadi kondisi yang lebih
diutamakan untuk masuk SD, mengingat pentingnya pendidikan pra sekolah bagi
perkembangan anak selanjutnya.
2.
Penganggaran porsi
dana yang lebib besar untuk pembangunan pendidikan anak usia dini (PAUD)
diindonesia
3.
Meningkatkan
pendapatan guru anak usia dini baik ditingkat pusat ataupun daerah.
4.
Membangun
infrastruktur (gedung-gedung) pusat pendidikan anak usia dini secara merata di
indonesia.
Tujuan Tentang Pengetahuan Tentang Latar Belakang
Pendidikan Karakter Anak Usia Dini adalah :
1. Mengembangkan teknologi Komputer
khususnya animasi kedalam permainan edukatif untuk pendidikan anak usia dini.
2. Merancang aplikasi untuk permainan anak yang edukatif dan interaktif.
3. Menambah Alat Permainan Edukatif (APE) untuk meningkatkan performa pendidik dalam mengajar.
2. Merancang aplikasi untuk permainan anak yang edukatif dan interaktif.
3. Menambah Alat Permainan Edukatif (APE) untuk meningkatkan performa pendidik dalam mengajar.
Manfaat Dari
Pengetahuan Tentang Latar Belakang Pendidikan Karakter Anak Usia Dini adalah
1. Anak usia dini akan mendapatkan
pengalaman yang berbeda dengan permainan edukasi lainnya sehingga dapat
meningkatkan kreatifitasnya.
2. Memperkenalkan teknologi komputer kepada anak sejak usia dini.
2. Memperkenalkan teknologi komputer kepada anak sejak usia dini.
Rumusan Masalah
Dari Pengetahuan Tentang Latar Belakang Pendidikan Karakter Anak Usia Dini
adalah :
1. Bagaimana mengembangkan media
pembelajaran animasi pendidikan karakter dengan metode pendekatan sentra untuk
pendidikan anak usia dini menggunakan teknologi multimedia.
2. Bagaimana anak usia dini dapat berinteraksi dengan permainan edukatif ini.
2. Bagaimana anak usia dini dapat berinteraksi dengan permainan edukatif ini.